Ini suatu ketika bukan tentang cinta
Namun sebuah risalah tentang rasa
Ia tumbuh dari hati setiap insan yang merasa pernah berdosa
Dan ingin kembali mereguk kenikmatan pelepas dahaga
Ini juga bukan tentang kau dan aku
Namun sebuah hikayah penuntun jalanmu
Jalan kita tuk seberangi lautan dunia nan semu
Tetapi haruskah kureguk nikmat balasannya lewat sebuah penolakanmu
Apakah karena risalah ini menggusarkan hatimu
Qalbumu seolah berontak berlari meninggalkanku
Seorang manusia yang juga sama sepertimu
Bukankah Allah , tuhan kita , sumber segala kebenaran
Lalu mengapa keras hatimu lakukan penolakan
Menghindarlah dariku....
Tapi jangan dari Rabb mu....
Ini bukan tentang cinta.....
Bukan pula tentang rasa dalam hati....
Tapi ini sebuah kabar gembira....
Kepada mereka yang hendak menerima....
Larilah jika kau berfikir mampu lari dari Rabb mu....
Andai dirimu merasa mampu tinggal dimana Rabb mu tidak berkuasa atas dirimu
Dari air yang kau minum.....
Udara yang kau hirup...
Serta tanah yang kau pijak....
Hingga kau lelah...
Aku menunggumu di persimpangan jalan...
Jalan yang oleh Baginda disebut jalan Kebahagiaan
Bersama kita kembali pulang...
Menuju Cinta....
Dan kasih darinya yang tak pernah lekang....
Mengenai Saya
- Refindo Pradikta
- Seorang Pendosa yang selalu mengaharapkan cinta dan ampunanNya.....
Minggu, 27 November 2011
Cinta Kau dan aku ( Rumi )
Kebahagiaan adalah saat kita duduk bersama,
Dua sosok, dua wajah, yang menyatu …
Kau dan aku....
Bunga-bunga ‘kan bermekaran dan
burung-burung ‘kan menembangkan kidungnya,
ketika kita memasuki taman …
Kau dan aku.
Bintang-bintang ‘kan muncul di langit ‘tuk menjadi saksi,
‘kan kita terangi mereka,
dengan cahaya purnama …
Kau dan aku.
Tiada lagi pemisahan ‘Kau’ dan ‘aku’
nuansa kebahagiaan dalam penyatuan semata -
kegembiraan, kegairahan, tiada kesusahan …
Kau dan aku.
Burung-burung surga yang bersayap cemerlang,
‘kan menukik turun ‘tuk minum air yang manis -
air mata kebahagiaan kita …
Kau dan aku.
Betapa sebuah keajaiban, kita duduk disini,
walau di tepi dunia yang berseberangan,
kita tetap akan duduk bersama …
Kau dan aku.
Kita adalah satu sosok di dunia ini,
dan menjadi sosok yang lain dikemudian.
bagi kita ada surga yang abadi,
keceriaan yang tanpa akhir ….
Kau dan aku.
Dua sosok, dua wajah, yang menyatu …
Kau dan aku....
Bunga-bunga ‘kan bermekaran dan
burung-burung ‘kan menembangkan kidungnya,
ketika kita memasuki taman …
Kau dan aku.
Bintang-bintang ‘kan muncul di langit ‘tuk menjadi saksi,
‘kan kita terangi mereka,
dengan cahaya purnama …
Kau dan aku.
Tiada lagi pemisahan ‘Kau’ dan ‘aku’
nuansa kebahagiaan dalam penyatuan semata -
kegembiraan, kegairahan, tiada kesusahan …
Kau dan aku.
Burung-burung surga yang bersayap cemerlang,
‘kan menukik turun ‘tuk minum air yang manis -
air mata kebahagiaan kita …
Kau dan aku.
Betapa sebuah keajaiban, kita duduk disini,
walau di tepi dunia yang berseberangan,
kita tetap akan duduk bersama …
Kau dan aku.
Kita adalah satu sosok di dunia ini,
dan menjadi sosok yang lain dikemudian.
bagi kita ada surga yang abadi,
keceriaan yang tanpa akhir ….
Kau dan aku.
Derai Pejuang ( Cintaku dan Cintamu )
Apa yang engkau cari wahai pejuang
Mereka tidak akan lagi pedulikan dirimu
Kau tak lebih sebuah daun pisang pembungkus nasi
Setelah habis kau dicampakkan tak berdaya
Tapi itulah Janji tuhan kita wahai pejuang
Jalan ini terlalu penuh onak duri yang menantang
Cintamu itu Cinta kita tak pernah tertidur
Ia pandangi kita dari singgasanaNya yang tinggi
Kenapa kau menangis pejuang
Akankah engkau terluka dari sifatnya itu
Semuanya menyadarkan dirimu
Bahwa hanya Cinta itu yang tak akan tinggalkanmu
Pejuaang ketauhilah....
Itu jua lah yang terjadi sejak dunia bermula
Karena menyampaikan amanahNya Nuh ditinggalkan anak dan istrinya
Bertahan karena syariah Musa harus tenggelamkan ayah angkatnya di laut merah
Semuanya atas izin Dia....... Cintaku dan Cintamu jua....
Tinggalkan dia pejuang
Aku percaya kau kan tetap tegak menerjang badai
Kan kudampingi kau dalam perjalanan panjang menemukan makna hakiki
Dari rasa bahagia di hati....
Dan rasa cinta yang terpatri....
Mari berjalan pejuang.....
Tinggalkan.....
Hilangkan....
Dan bersamaku mari kita pulang.....
Mereka tidak akan lagi pedulikan dirimu
Kau tak lebih sebuah daun pisang pembungkus nasi
Setelah habis kau dicampakkan tak berdaya
Tapi itulah Janji tuhan kita wahai pejuang
Jalan ini terlalu penuh onak duri yang menantang
Cintamu itu Cinta kita tak pernah tertidur
Ia pandangi kita dari singgasanaNya yang tinggi
Kenapa kau menangis pejuang
Akankah engkau terluka dari sifatnya itu
Semuanya menyadarkan dirimu
Bahwa hanya Cinta itu yang tak akan tinggalkanmu
Pejuaang ketauhilah....
Itu jua lah yang terjadi sejak dunia bermula
Karena menyampaikan amanahNya Nuh ditinggalkan anak dan istrinya
Bertahan karena syariah Musa harus tenggelamkan ayah angkatnya di laut merah
Semuanya atas izin Dia....... Cintaku dan Cintamu jua....
Tinggalkan dia pejuang
Aku percaya kau kan tetap tegak menerjang badai
Kan kudampingi kau dalam perjalanan panjang menemukan makna hakiki
Dari rasa bahagia di hati....
Dan rasa cinta yang terpatri....
Mari berjalan pejuang.....
Tinggalkan.....
Hilangkan....
Dan bersamaku mari kita pulang.....
Selasa, 22 November 2011
Hanya CintaMu yang sejati
Hanya cintaMu yang sejati
Dari helaian rambut yang paling ujung
Hingga deru sentak telapak kaki.....
Hanya cintaMu yang sejati
Yang tanpa pamrih selalu Engkau beri
Meski terkadang aku lebih banyak tak mensyukuri diri....
Hanya cintaMu yang sejati
Menelisik dari balik sukma yang terguncang
Di dera masalah hingga tunggang langgang
Kemudian jatuh lalu centang perenang....
Hanya cintaMu yang sejati
Beri hati ini ketenangan yang hakiki
Bukan rasa bahagia yang semu menipu diri
Hingga terlena dengan dunia yang tak akan pernah abadi....
Hanya cintaMu yang abadi
Ijinkan kureguk manisnya cinta dalam indahnya air mata taubat
Dalam senandung dzikir dan shalawat
Hingga aku perlahan bisa mendekat....
Hanya cintaMu yang kurindu
Ijinkan aku mati di cintaMu
Bersenandung damai kalimatMu
Dan Rindu...
Dalam kalbu yang selama ini terbelenggu....
Ijinkan aku mati di cintaMu....
Ijinkan......
Dari helaian rambut yang paling ujung
Hingga deru sentak telapak kaki.....
Hanya cintaMu yang sejati
Yang tanpa pamrih selalu Engkau beri
Meski terkadang aku lebih banyak tak mensyukuri diri....
Hanya cintaMu yang sejati
Menelisik dari balik sukma yang terguncang
Di dera masalah hingga tunggang langgang
Kemudian jatuh lalu centang perenang....
Hanya cintaMu yang sejati
Beri hati ini ketenangan yang hakiki
Bukan rasa bahagia yang semu menipu diri
Hingga terlena dengan dunia yang tak akan pernah abadi....
Hanya cintaMu yang abadi
Ijinkan kureguk manisnya cinta dalam indahnya air mata taubat
Dalam senandung dzikir dan shalawat
Hingga aku perlahan bisa mendekat....
Hanya cintaMu yang kurindu
Ijinkan aku mati di cintaMu
Bersenandung damai kalimatMu
Dan Rindu...
Dalam kalbu yang selama ini terbelenggu....
Ijinkan aku mati di cintaMu....
Ijinkan......
Minggu, 20 November 2011
Sepotong kue ulang tahun dan sebotol susu....
Aku tinggal bersama seorang sahabatku bernama doni. Kami tinggal di sebuah rumah yang termasuk dalam kategori cukup memadai..Kebetulan juga di dekat tempat tinggal kami banyak sekali rumah makan yang menjual aneka makanan sehingga kami , yang notabene nya masih lajang , tidak kesulitan menemukan makanan disaat cacing di perut kami mulai berontak.
Doni adalah sosok seorang teman yang tergolong cukup pintar serta memiliki karir yang bagus dalam pekerjaannya. Tak jarang banyak tawaran pekerjaan yang ia terima dan sudah barang tentu ia memiliki koneksi dan relasi di mana - mana. Hal itu nampak sekali terlihat ketika menjelang hari lebaran dimana banyak sekali parsel dan kiriman lainnya menumpuk di rumah kami. Alhamdulillah semua itu dapat kami nikmati bersama dikarenakan Doni juga bukan termasuk sosok orang yang pelit. Namun dengan banyaknya kiriman tersebut cukup untuk membuat aku sadar bahwa kawanku yang satu ini memang memiliki etos kerja yang tinggi ditambah lagi dengan garisan rezeki yang bagus. Sebagaimana apa yang pernah dikatakan ustadku dulu bahwa ketika seorang bayi telah ditiupkan ruh ke dalam perut sang ibu maka berlaku lah tiga ketetapan dari Allah yang tak akan pernah bisa berubah yaitu Rezeki , Maut , dan Jodoh.....
Hari itu kalau aku tidak salah adalah hari Rabu. Seperti biasa kami berdua bangun pagi lalu melaksanakan shalat Shubuh dilanjutkan persiapan berangkat ke kantor. Dalam benakku ada satu hal yang terlupa bahwa ternyata hari itu adalah hari ulang tahun Doni. Seketika aku tersadar , Doni sudah berangkat dari kediaman kami menuju kantornya. Aku pun menunda niatku untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabatku itu. Kupacu sepeda motorku menuju kantorku dan sesampainya di kantor kutemui kerjaan yang segunung telah menungguku.. Sambil mengerjakannya satu per satu aku sempat mengeluh dengan keadaanku yang sekarang. Terus terang memang dalam segi pendapatan aku agak sedikit berbeda dengan Doni. Dia merupakan salah satu pimpinan di wilayah kerjanya sementara aku hanyalah seorang staf biasa. Seandainya aku di posisi Doni sekarang pastilah tidak akan memekan waktu lama untuk menyelesaikan ini semua dikarenakan banyak karyawan yang siap membantu.. Penghasilan ??? jangan ditanya untuk hal itu. Doni punya penghasilan kurang lebih dua kali lipat dari penghasilanku. Itu juga yang ia gunakan untuk kredit mobil guna menunjang mobilitas kerjanya ke kantor.
Setelah aku selesaikan semua pekerjaan itu , sekitar pukul enam sore aku kembali ke rumah sambil menantikan hadirnya adzan maghrib. Tak lupa aku beli sebuah kue ulang tahun teruntuk sahabatku Doni. Menjelang isya handphone ku berdering dan kulihat ternyata telepon dari doni. Doni menelepon untuk memberitahukan kepadaku bahwa dia akan pulang agak sedikit terlambat dikarenakan ada perayaan kecil - kecilan ulang tahunnya bersama para relasi dan karyawan kantornya.. Setengah kecewa dan mengumpat aku pun bertanya untuk siapa kue ini akhirnya nanti karena jika pulang larut malam pastilah Doni telah mengantuk dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ba'da isya aku memutuskan untuk pergi keluar rumah mencari warung makan yang masih buka. Maklumlah semenjak makan tadi siang , aku bahkan nyaris tidak menyentuh makanan apapun lagi terkecuali sebuah biskuit yang aku bawa dari rumah di saku sebelah kananku. Akhirnya pilihanku pun tertuju pada sebuah rumah makan Padang dimana aku dan Doni biasa makan bersama. Setelah kupesan dan mulai memakannya tiba - tiba handphoneku berdering. Kubuka sebuah pesan dari Doni yang bertuliskan "Kalo kamu mau tidur duluan, tidur saja tapi kunci ditaruh di tempat biasa ya " ..... Sempurna akhirnya dugaanku kini bahwa Doni memang akan pulang sangat larut...
Setelah membayar makan tadi aku berniat kembali kerumah. Terlihat seseorang olehku menggendong anaknya mengenakan baju yang lusuh dan kotor. Ia seolah tahu aku memperhatikannya dan mendekatiku serta meminta sedikit sedekah. Aku Sempat tertegun dan seolah ditelanjangi dengan kata - katanya " Pak , bagilah sedikit rezeki untuk kami "..... Suara itu umpama sambaran petir di siang bolong....
Allah.... ampuni aku..... Diri ini kurang bersyukur atas apa yang telah engkau beri.. Rumah , pekerjaan , gaji , pakaian , kesehatan dan semuanya...... Tak sanggup aku jawab permintaan itu akupun memutuskan berlari kerumah. Teringat olehku akan sepotong kue ulang tahun yang aku beli tadi sore untuk Doni.. Cepat kuambil dan kubungkus dengan sebuah tisu kusertakan juga dengan sebotol susu coklat dan berlari kembali...
Sesampainya di tempat tadi aku berikan semuanya dan mata ini seolah tak kuasa lagi membendung tangisan yang akan mengalir. Namun aku tetap mencoba tersenyum di depan mereka sembari berkata " Makanlah bu dan susu ini buat adek ya.." Sambil setengah keheranan ibu itu pun berucap terima kasih.... Aku pun langsung berlari kembali , mengunci pintu dan tanpa terasa pipi ini basah oleh lelehan air mata.. Sambil berucap " Allah.... terima kasih atas kesempatan hamba menikmati makanan yang kau beri, mereka masih harus mengais dan terkadang malah tidak menemukan apa yang mereka cari.. Allah.... terima kasih atas semua yang aku miliki kini..... Allah.......................................................... batinku berteriak menangis sejadi - jadinya hingga tertidur....
Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 24.00 WIB dan kudengar ada langkah kaki... Segera saja kubuka pintu kamar dan menemukan Doni sedang melepas sepatunya. Kuucapkan selamat ulang tahun teriring doa kepadanya.. Lengkaplah sudah hari ini... Sebuah pembelajaran dari sepotong kue ulang tahun dan sebotol susu serta ditutup dengan doa yang terpanjat untuk sahabatku Doni.....
Alhamdulillah....
Terima kasih atas hari ini Ya Robbi.....
Menjadikan hamba lebih bersyukur untuk semuanya....
Fa bi ayyi ala i robbikuma tukadzdziban
( Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan )
Selasa, 03 Mei 2011
Akhlaq pejuang cinta
Sunyi senyap tapi tak sendiri
Ramai dalam kesunyian
Sepi dalam keramaian
Begitulah Akhlaq para pencari cinta
Ketika dalam keramaian manusia
dihatinya ia sunyi bersama Tuhannya
Ketika sedang sendiri dalam kesunyian
ia dihatinya sedang ramai bercakap dengan Tuhannya
Mereka kuat dalam kelembutan...
Ta'at pada Allah adalah bentengnya
Doa adalah senjatanya
Sabar adalah pakaiannya
Ikhlas adalah perhiasannya
Dzikir adalah kegemarannya
Alquran adalah sarana mereka berkomunikasi dengan Tuhannya
Mereka menyadari bahwa rasa dan perasaan adalah dari Allah semata
Sedih....
Senang....
Bahagia....
Kecewa.....
Terserah pada Tuhannya
Karena mereka menyadari bahwa hati adalah milikNya
Janganlah berpaling dariNya
Biarlah remuk perasaanmu namun kau dekat dengan sumber kekuasaan
Daripada kau terlihat kuat namun jauh dariNya.....
Ramai dalam kesunyian
Sepi dalam keramaian
Begitulah Akhlaq para pencari cinta
Ketika dalam keramaian manusia
dihatinya ia sunyi bersama Tuhannya
Ketika sedang sendiri dalam kesunyian
ia dihatinya sedang ramai bercakap dengan Tuhannya
Mereka kuat dalam kelembutan...
Ta'at pada Allah adalah bentengnya
Doa adalah senjatanya
Sabar adalah pakaiannya
Ikhlas adalah perhiasannya
Dzikir adalah kegemarannya
Alquran adalah sarana mereka berkomunikasi dengan Tuhannya
Mereka menyadari bahwa rasa dan perasaan adalah dari Allah semata
Sedih....
Senang....
Bahagia....
Kecewa.....
Terserah pada Tuhannya
Karena mereka menyadari bahwa hati adalah milikNya
Janganlah berpaling dariNya
Biarlah remuk perasaanmu namun kau dekat dengan sumber kekuasaan
Daripada kau terlihat kuat namun jauh dariNya.....
Minggu, 03 April 2011
Andai Aku Harus Berkata......
Ampuni aku tuhan ketika kuteteskan peluh ini dalam guratan tinta
Bukan mengharap iba dari hamba nan hina
Namun sedikit curahan rasa dari segala waktu yang semakin mendera
Menelanjangi diri ini seolah nista dan papa
Andai aku harus berkata Tuhan.....
Tak pelak lagi tentu kan kupilih sebuah jalan
Mendekat padamu dalam hitungan umur belasan
Tanpa menunggu takdirnya sang garisan tangan
Tuhan....
Likuan hidup seolah melenakan diri ini dari tunduk padamu
Cinta insani menutup hati dari manisnya cinta pada Ilahi
Kembali lagi kuterpuruk dalam fana nya dunia ini
Terlena dunia dari sengatan globalisme yang gencar di kumandangkan
Apakah ini tuhan sebuah janji yang 14 abad yang lalu telah dituliskan
Akan datang masa dimana manusia melupakan fitrah untuk bertuhan
Kulihat dunia dengan dalamnya kalbu........
kosong............
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadirmu mematahkan sendi sendi yang selama ini tegak berdiri
Andai aku harus berkata
Ingin rasanya kumenjerit dan melolong tentang kepalsuan dunia ini
Namun adakah serunai yang akan mampu aku dendangkan
Kala mata hati tlah tertutup kemajuan semu peradaban
Andai aku harus berkata
Ingin aku mati di cinta Mu tuhan
Bersenandungkan petikan dawai istighfar dan penyesalan
Atas segala khilaf yang terlalu banyak berceceran
Andai aku harus berkata
Kan kupilih sebuah cinta dari ribuan yang bertebar di dunia
Kujadikan makmum dalam indahnya melodi taat padamu
Berhimpun dalam mihrab suci.... abadi dan hakiki......
Andai aku harus berkata
Kan kupinta Engkau memilihkan satu diantara dua
Setiap goresan yang merintangi perjalanan hamba di dunia
Dalam kerlingan mata dan sejuknya doa
Tuhan aku kembali.....
Menyusuri titian langkah yang panjang namun pasti
Bimbing desiran darah ini menyusuri cintamu
Jua detakan jantung serta derapan pijakan kaki di bumi cinta Mu
Andai aku harus berkata
Bukan bermaksud lancang ingkari takdir hamba
Tunjukkanlah jelmaan bidadari syurga Ainun Mardhiah di hadapan mata
Kan kujadikan sebuah simpul dalam indahnya cinta
Kususun kepingan huruf dalam taat pada Mu
Kiranya kau bimbing hamba menyusuri dunia dalam cinta Mu
Serta cinta dia yang kan dampingi perjalanan jihad hamba
Menegakkan kalimat Mu di bumi ciptaanmu
Dalam desahan nafas yang tersengal ini
Hamba bermunajat kehadiranmu
Wujud pinta dari hamba nan tiada berdaya
Jua lentingan tasbih cinta
Dari balik alam dunia
Bukan mengharap iba dari hamba nan hina
Namun sedikit curahan rasa dari segala waktu yang semakin mendera
Menelanjangi diri ini seolah nista dan papa
Andai aku harus berkata Tuhan.....
Tak pelak lagi tentu kan kupilih sebuah jalan
Mendekat padamu dalam hitungan umur belasan
Tanpa menunggu takdirnya sang garisan tangan
Tuhan....
Likuan hidup seolah melenakan diri ini dari tunduk padamu
Cinta insani menutup hati dari manisnya cinta pada Ilahi
Kembali lagi kuterpuruk dalam fana nya dunia ini
Terlena dunia dari sengatan globalisme yang gencar di kumandangkan
Apakah ini tuhan sebuah janji yang 14 abad yang lalu telah dituliskan
Akan datang masa dimana manusia melupakan fitrah untuk bertuhan
Kulihat dunia dengan dalamnya kalbu........
kosong............
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadirmu mematahkan sendi sendi yang selama ini tegak berdiri
Andai aku harus berkata
Ingin rasanya kumenjerit dan melolong tentang kepalsuan dunia ini
Namun adakah serunai yang akan mampu aku dendangkan
Kala mata hati tlah tertutup kemajuan semu peradaban
Andai aku harus berkata
Ingin aku mati di cinta Mu tuhan
Bersenandungkan petikan dawai istighfar dan penyesalan
Atas segala khilaf yang terlalu banyak berceceran
Andai aku harus berkata
Kan kupilih sebuah cinta dari ribuan yang bertebar di dunia
Kujadikan makmum dalam indahnya melodi taat padamu
Berhimpun dalam mihrab suci.... abadi dan hakiki......
Andai aku harus berkata
Kan kupinta Engkau memilihkan satu diantara dua
Setiap goresan yang merintangi perjalanan hamba di dunia
Dalam kerlingan mata dan sejuknya doa
Tuhan aku kembali.....
Menyusuri titian langkah yang panjang namun pasti
Bimbing desiran darah ini menyusuri cintamu
Jua detakan jantung serta derapan pijakan kaki di bumi cinta Mu
Andai aku harus berkata
Bukan bermaksud lancang ingkari takdir hamba
Tunjukkanlah jelmaan bidadari syurga Ainun Mardhiah di hadapan mata
Kan kujadikan sebuah simpul dalam indahnya cinta
Kususun kepingan huruf dalam taat pada Mu
Kiranya kau bimbing hamba menyusuri dunia dalam cinta Mu
Serta cinta dia yang kan dampingi perjalanan jihad hamba
Menegakkan kalimat Mu di bumi ciptaanmu
Dalam desahan nafas yang tersengal ini
Hamba bermunajat kehadiranmu
Wujud pinta dari hamba nan tiada berdaya
Jua lentingan tasbih cinta
Dari balik alam dunia
Kamis, 03 Februari 2011
Lantunan Kerinduanku ( Kerinduan seorang Istri )
Bismillah
Sekeping harap diawal pagi
Dengan tengadah tangan ke haribaan Ilahi
Bertasbih setiap jengkal rindu di dalam hati
Berharap Ia dengar setiap lantunan senandung cinta ini
Duhai lelaki yang dari rusukmu tercipta diriku
Sadarkah engkau akan lengkungan rindu yang terbentuk di awan biru
pun mega yang seolah sendu
berkabar pada dirimu tentang adanya diriku
Sayang.....
Allah menguji kesabaranku sekali lagi
ia sekejap mencabut nikmat sehat dalam diri
aku kini terbaring sendiri.....
ya, hanya sendiri.......
Kususun kepingan huruf ini sekedar berkabar kepadamu
Laki - Laki yang tempatku hadapi akhir waktu
Arungi setiap jengkal hidupku
bahwa kini aku tak lagi seperti dulu
Dengan berputarnya waktu
Seiring dekatnya janji Sang Pemiliki Subuh
Tubuhku ini tak lagi sekuat dulu
Namun Aku tak ingin kau terlalu terfikir tentangku
hingga membuat mu lalai tentang malaikat2 kecil itu
Tersenyumlah sayang.....
Tak butuh sentuhan duniawi bagi sakit ini
Bicaralah dengan hati
Hati yang didalamnya tertulis cinta dan ketundukan pada Ilahi
Maaf jika kata ini tak berkenan kepadamu
Sungguh bukan inginku melenakanmu memikirkanku
Hanya sekedar sapa dan pelukan rindu
Pengobat kalbuku yang beku
Kukirim derapan hati ini
dengan berlindung kepada Sang Maha Tinggi
tentang segala keburukan yang ada dalam diri
Semoga Ia senantiasa bukakan hati
tuk cintai Dia
serta engkau sang imam diri ini
amin........
Sekeping harap diawal pagi
Dengan tengadah tangan ke haribaan Ilahi
Bertasbih setiap jengkal rindu di dalam hati
Berharap Ia dengar setiap lantunan senandung cinta ini
Duhai lelaki yang dari rusukmu tercipta diriku
Sadarkah engkau akan lengkungan rindu yang terbentuk di awan biru
pun mega yang seolah sendu
berkabar pada dirimu tentang adanya diriku
Sayang.....
Allah menguji kesabaranku sekali lagi
ia sekejap mencabut nikmat sehat dalam diri
aku kini terbaring sendiri.....
ya, hanya sendiri.......
Kususun kepingan huruf ini sekedar berkabar kepadamu
Laki - Laki yang tempatku hadapi akhir waktu
Arungi setiap jengkal hidupku
bahwa kini aku tak lagi seperti dulu
Dengan berputarnya waktu
Seiring dekatnya janji Sang Pemiliki Subuh
Tubuhku ini tak lagi sekuat dulu
Namun Aku tak ingin kau terlalu terfikir tentangku
hingga membuat mu lalai tentang malaikat2 kecil itu
Tersenyumlah sayang.....
Tak butuh sentuhan duniawi bagi sakit ini
Bicaralah dengan hati
Hati yang didalamnya tertulis cinta dan ketundukan pada Ilahi
Maaf jika kata ini tak berkenan kepadamu
Sungguh bukan inginku melenakanmu memikirkanku
Hanya sekedar sapa dan pelukan rindu
Pengobat kalbuku yang beku
Kukirim derapan hati ini
dengan berlindung kepada Sang Maha Tinggi
tentang segala keburukan yang ada dalam diri
Semoga Ia senantiasa bukakan hati
tuk cintai Dia
serta engkau sang imam diri ini
amin........
Jumat, 28 Januari 2011
Cintai Aku Meski Aku Tak Sempurna
Kutuliskan butiran cinta dan kerinduan ini
Dalam Uraian air mata pengharapan
Berdoa dalam kehadirat Ilahi
Kiranya dirimu penghapus segala kebimbangan
Tahukah dirimu wahai sayang.....
Dahulu kubentuk sebuah mahligai kasih beratapkan restu Sang pencipta bumi
Berharap kan kulalui hingga mentari tak terbit di ufuk timur lagi
Serta datangnya janji dari Pemilik mentari
Derai air mata bahagia dan lantunan doa di pelaminan itu
seolah jadi sendu.... kelu.... dan membeku
Saat Tuhan menyingkap sebuah tabir yang tak pernah ku tahu
Ia dustaiku.....
Tilam emas yang jadi saksi cinta kami
Seolah ingin menjerit dan bercerita kepada diri ini
Bahwa ada cinta lain yang berhimpun di atasnya
selain cinta aku dan dirinya.....
aku bahkan tak mampu menahan gejolak rasa
meskipun aku tahu Allah amat membencinya
dan kuyakin Arsy pun tergoncang dahsyatnya
Saat Kubilang tak akan pernah lagi bersamanya
Sayang..... seolah tiada pernah kuungkapkan ini kepadamu
Ksatria kecilku pun tak pernah dapat kulihat lagi
kudengar keluhnya , kusapu air matanya
Ataupun sekedar mendengar ia memanggilku
Ayah........
Semuanya seolah mentertawaiku....
hingga akhirnya dalam putaran detik sang waktu
aku melihat lukisan seorang bidadari
dalam kilaunya kepribadianmu
Sayang...... ingin sekali rasanya engkau tahu
jadilah pengobat untuk hati yang dahulu sempat kelu
bersamamu......
kan ku arungi waktu yang tersisa di hidupku
Saat susunan tinta ini kau baca
aku berdoa di dalam hati
merendahkan diri pada Sang Maha Tinggi
semoga Ia Restui langkah ini
Kupinang Engkau wahai cinta dengan Bismillah
Semoga Allah meridhoi setiap jejak yang kita buat
Dalam menapaki cerita yang telah disusun olehNya
Kupinang Engkau wahai cinta dengan bismillah
dalam harap selalu padamu yang terindah
janganlah hati kita kan terasa gundah
melebur dalam indahnya mahligai nan pasrah
Kutulis Bait ini..... dalam dekapan malam yang semakin dingin
penuh cita indah nan suci tentang sebuah kehangatan cinta
cinta dari replika sang bidadari
yang ada di hadapanku kini
Barisan harapku yang terakhir
terimalah diriku ini apa adanya
ingatlah selalu tentang DIA
serta sebuah pinta.....
Cintai Aku Meski Ku Tak Sempurna........
Dalam Uraian air mata pengharapan
Berdoa dalam kehadirat Ilahi
Kiranya dirimu penghapus segala kebimbangan
Tahukah dirimu wahai sayang.....
Dahulu kubentuk sebuah mahligai kasih beratapkan restu Sang pencipta bumi
Berharap kan kulalui hingga mentari tak terbit di ufuk timur lagi
Serta datangnya janji dari Pemilik mentari
Derai air mata bahagia dan lantunan doa di pelaminan itu
seolah jadi sendu.... kelu.... dan membeku
Saat Tuhan menyingkap sebuah tabir yang tak pernah ku tahu
Ia dustaiku.....
Tilam emas yang jadi saksi cinta kami
Seolah ingin menjerit dan bercerita kepada diri ini
Bahwa ada cinta lain yang berhimpun di atasnya
selain cinta aku dan dirinya.....
aku bahkan tak mampu menahan gejolak rasa
meskipun aku tahu Allah amat membencinya
dan kuyakin Arsy pun tergoncang dahsyatnya
Saat Kubilang tak akan pernah lagi bersamanya
Sayang..... seolah tiada pernah kuungkapkan ini kepadamu
Ksatria kecilku pun tak pernah dapat kulihat lagi
kudengar keluhnya , kusapu air matanya
Ataupun sekedar mendengar ia memanggilku
Ayah........
Semuanya seolah mentertawaiku....
hingga akhirnya dalam putaran detik sang waktu
aku melihat lukisan seorang bidadari
dalam kilaunya kepribadianmu
Sayang...... ingin sekali rasanya engkau tahu
jadilah pengobat untuk hati yang dahulu sempat kelu
bersamamu......
kan ku arungi waktu yang tersisa di hidupku
Saat susunan tinta ini kau baca
aku berdoa di dalam hati
merendahkan diri pada Sang Maha Tinggi
semoga Ia Restui langkah ini
Kupinang Engkau wahai cinta dengan Bismillah
Semoga Allah meridhoi setiap jejak yang kita buat
Dalam menapaki cerita yang telah disusun olehNya
Kupinang Engkau wahai cinta dengan bismillah
dalam harap selalu padamu yang terindah
janganlah hati kita kan terasa gundah
melebur dalam indahnya mahligai nan pasrah
Kutulis Bait ini..... dalam dekapan malam yang semakin dingin
penuh cita indah nan suci tentang sebuah kehangatan cinta
cinta dari replika sang bidadari
yang ada di hadapanku kini
Barisan harapku yang terakhir
terimalah diriku ini apa adanya
ingatlah selalu tentang DIA
serta sebuah pinta.....
Cintai Aku Meski Ku Tak Sempurna........
Kamis, 27 Januari 2011
Tegarlah Untukku ( Bait harap seorang Istri )
Duhai Lelaki nan perkasa..
Aku tak pernah tahu harus darimana menggoreskan setiap titik perjalanan cinta kita..
Retakan , patahan bumi menggoncang mahligai
abadi nan setia..
Namun aku serahkan pada Takdir Yang Kuasa..
Duhai cinta yang kusimpan
dalam kalbu..
Tahukah engkau diri ini
terkadang menyimpan rindu
pada setiap jejak hujan yang tertinggal mengharu biru,
meretas...,
tumbuhkan bunga
yang dahulu sempat layu..
Cinta.......
Dengarkah dirimu akan jeritan tangis bahagianya
Berdua kita ikrarkan janji untuk bidadari kecil ini...
Dirimu berjihad penuhi nafkah kami....
Dan Aku senantiasa berdiri kuatkan dirimu...
Cinta.......Kumohon......
Jangan kau anggap diri ini terlampau kuat..
Aku hanya tidak ingin jerit tangis dan senyum bidadari kita tak terdengar lagi,
walaupun untuk itu.....
ku korbankan bahagia yang kudamba selama ini...
Cintaku......
Lelaki yang digariskan Tuhan untukku......
Kejadian pelik itu merenggut separuh jiwamu....
Tak kuasa kutahan
lelehan air mata saat itu...
Kulihat dirimu bersimbah peluh nan lesu.... sayu.....
Seolah tiada lagi harapan hidupmu....
Tegarlah Untukku wahai Imamku...
Aku berusaha menjadi pilar penopang hati dan semangatmu
meskipun ku tahu
tiada daya aku merengkuh itu.
Tegarlah untukku wahai Belahan Jiwaku.....
Bersama kan kita jelang dunia nan baru, mengaliri setiap detik jantung bidadari penerusmu..
Lalui dunia hingga
batas sang waktu..
Dalam lautan doa dan air mata ini,
aku berdoa seraya berucap harap padamu cintaku.
Untuk mu seorang,
sepenuh jiwa kudarmakan baktiku..
Menunduklah kepada Dia
yang menggenggam langit nan biru..
Mengeluhlah tentang setiap jengkal masalahmu..
Kala diri ini tak lagi kuat menopangmu,
aku akan tetap mencoba tersenyum
meskipun dalam sendu,
dan bertasbih dalam rinduku.
Lalu kubisikkan kata indah
di telingamu ..... ,
Tegarlah Untukku......
Aku tak pernah tahu harus darimana menggoreskan setiap titik perjalanan cinta kita..
Retakan , patahan bumi menggoncang mahligai
abadi nan setia..
Namun aku serahkan pada Takdir Yang Kuasa..
Duhai cinta yang kusimpan
dalam kalbu..
Tahukah engkau diri ini
terkadang menyimpan rindu
pada setiap jejak hujan yang tertinggal mengharu biru,
meretas...,
tumbuhkan bunga
yang dahulu sempat layu..
Cinta.......
Dengarkah dirimu akan jeritan tangis bahagianya
Berdua kita ikrarkan janji untuk bidadari kecil ini...
Dirimu berjihad penuhi nafkah kami....
Dan Aku senantiasa berdiri kuatkan dirimu...
Cinta.......Kumohon......
Jangan kau anggap diri ini terlampau kuat..
Aku hanya tidak ingin jerit tangis dan senyum bidadari kita tak terdengar lagi,
walaupun untuk itu.....
ku korbankan bahagia yang kudamba selama ini...
Cintaku......
Lelaki yang digariskan Tuhan untukku......
Kejadian pelik itu merenggut separuh jiwamu....
Tak kuasa kutahan
lelehan air mata saat itu...
Kulihat dirimu bersimbah peluh nan lesu.... sayu.....
Seolah tiada lagi harapan hidupmu....
Tegarlah Untukku wahai Imamku...
Aku berusaha menjadi pilar penopang hati dan semangatmu
meskipun ku tahu
tiada daya aku merengkuh itu.
Tegarlah untukku wahai Belahan Jiwaku.....
Bersama kan kita jelang dunia nan baru, mengaliri setiap detik jantung bidadari penerusmu..
Lalui dunia hingga
batas sang waktu..
Dalam lautan doa dan air mata ini,
aku berdoa seraya berucap harap padamu cintaku.
Untuk mu seorang,
sepenuh jiwa kudarmakan baktiku..
Menunduklah kepada Dia
yang menggenggam langit nan biru..
Mengeluhlah tentang setiap jengkal masalahmu..
Kala diri ini tak lagi kuat menopangmu,
aku akan tetap mencoba tersenyum
meskipun dalam sendu,
dan bertasbih dalam rinduku.
Lalu kubisikkan kata indah
di telingamu ..... ,
Tegarlah Untukku......
Langganan:
Postingan (Atom)