Kutuliskan butiran cinta dan kerinduan ini
Dalam Uraian air mata pengharapan
Berdoa dalam kehadirat Ilahi
Kiranya dirimu penghapus segala kebimbangan
Tahukah dirimu wahai sayang.....
Dahulu kubentuk sebuah mahligai kasih beratapkan restu Sang pencipta bumi
Berharap kan kulalui hingga mentari tak terbit di ufuk timur lagi
Serta datangnya janji dari Pemilik mentari
Derai air mata bahagia dan lantunan doa di pelaminan itu
seolah jadi sendu.... kelu.... dan membeku
Saat Tuhan menyingkap sebuah tabir yang tak pernah ku tahu
Ia dustaiku.....
Tilam emas yang jadi saksi cinta kami
Seolah ingin menjerit dan bercerita kepada diri ini
Bahwa ada cinta lain yang berhimpun di atasnya
selain cinta aku dan dirinya.....
aku bahkan tak mampu menahan gejolak rasa
meskipun aku tahu Allah amat membencinya
dan kuyakin Arsy pun tergoncang dahsyatnya
Saat Kubilang tak akan pernah lagi bersamanya
Sayang..... seolah tiada pernah kuungkapkan ini kepadamu
Ksatria kecilku pun tak pernah dapat kulihat lagi
kudengar keluhnya , kusapu air matanya
Ataupun sekedar mendengar ia memanggilku
Ayah........
Semuanya seolah mentertawaiku....
hingga akhirnya dalam putaran detik sang waktu
aku melihat lukisan seorang bidadari
dalam kilaunya kepribadianmu
Sayang...... ingin sekali rasanya engkau tahu
jadilah pengobat untuk hati yang dahulu sempat kelu
bersamamu......
kan ku arungi waktu yang tersisa di hidupku
Saat susunan tinta ini kau baca
aku berdoa di dalam hati
merendahkan diri pada Sang Maha Tinggi
semoga Ia Restui langkah ini
Kupinang Engkau wahai cinta dengan Bismillah
Semoga Allah meridhoi setiap jejak yang kita buat
Dalam menapaki cerita yang telah disusun olehNya
Kupinang Engkau wahai cinta dengan bismillah
dalam harap selalu padamu yang terindah
janganlah hati kita kan terasa gundah
melebur dalam indahnya mahligai nan pasrah
Kutulis Bait ini..... dalam dekapan malam yang semakin dingin
penuh cita indah nan suci tentang sebuah kehangatan cinta
cinta dari replika sang bidadari
yang ada di hadapanku kini
Barisan harapku yang terakhir
terimalah diriku ini apa adanya
ingatlah selalu tentang DIA
serta sebuah pinta.....
Cintai Aku Meski Ku Tak Sempurna........
Mengenai Saya
- Refindo Pradikta
- Seorang Pendosa yang selalu mengaharapkan cinta dan ampunanNya.....
Jumat, 28 Januari 2011
Kamis, 27 Januari 2011
Tegarlah Untukku ( Bait harap seorang Istri )
Duhai Lelaki nan perkasa..
Aku tak pernah tahu harus darimana menggoreskan setiap titik perjalanan cinta kita..
Retakan , patahan bumi menggoncang mahligai
abadi nan setia..
Namun aku serahkan pada Takdir Yang Kuasa..
Duhai cinta yang kusimpan
dalam kalbu..
Tahukah engkau diri ini
terkadang menyimpan rindu
pada setiap jejak hujan yang tertinggal mengharu biru,
meretas...,
tumbuhkan bunga
yang dahulu sempat layu..
Cinta.......
Dengarkah dirimu akan jeritan tangis bahagianya
Berdua kita ikrarkan janji untuk bidadari kecil ini...
Dirimu berjihad penuhi nafkah kami....
Dan Aku senantiasa berdiri kuatkan dirimu...
Cinta.......Kumohon......
Jangan kau anggap diri ini terlampau kuat..
Aku hanya tidak ingin jerit tangis dan senyum bidadari kita tak terdengar lagi,
walaupun untuk itu.....
ku korbankan bahagia yang kudamba selama ini...
Cintaku......
Lelaki yang digariskan Tuhan untukku......
Kejadian pelik itu merenggut separuh jiwamu....
Tak kuasa kutahan
lelehan air mata saat itu...
Kulihat dirimu bersimbah peluh nan lesu.... sayu.....
Seolah tiada lagi harapan hidupmu....
Tegarlah Untukku wahai Imamku...
Aku berusaha menjadi pilar penopang hati dan semangatmu
meskipun ku tahu
tiada daya aku merengkuh itu.
Tegarlah untukku wahai Belahan Jiwaku.....
Bersama kan kita jelang dunia nan baru, mengaliri setiap detik jantung bidadari penerusmu..
Lalui dunia hingga
batas sang waktu..
Dalam lautan doa dan air mata ini,
aku berdoa seraya berucap harap padamu cintaku.
Untuk mu seorang,
sepenuh jiwa kudarmakan baktiku..
Menunduklah kepada Dia
yang menggenggam langit nan biru..
Mengeluhlah tentang setiap jengkal masalahmu..
Kala diri ini tak lagi kuat menopangmu,
aku akan tetap mencoba tersenyum
meskipun dalam sendu,
dan bertasbih dalam rinduku.
Lalu kubisikkan kata indah
di telingamu ..... ,
Tegarlah Untukku......
Aku tak pernah tahu harus darimana menggoreskan setiap titik perjalanan cinta kita..
Retakan , patahan bumi menggoncang mahligai
abadi nan setia..
Namun aku serahkan pada Takdir Yang Kuasa..
Duhai cinta yang kusimpan
dalam kalbu..
Tahukah engkau diri ini
terkadang menyimpan rindu
pada setiap jejak hujan yang tertinggal mengharu biru,
meretas...,
tumbuhkan bunga
yang dahulu sempat layu..
Cinta.......
Dengarkah dirimu akan jeritan tangis bahagianya
Berdua kita ikrarkan janji untuk bidadari kecil ini...
Dirimu berjihad penuhi nafkah kami....
Dan Aku senantiasa berdiri kuatkan dirimu...
Cinta.......Kumohon......
Jangan kau anggap diri ini terlampau kuat..
Aku hanya tidak ingin jerit tangis dan senyum bidadari kita tak terdengar lagi,
walaupun untuk itu.....
ku korbankan bahagia yang kudamba selama ini...
Cintaku......
Lelaki yang digariskan Tuhan untukku......
Kejadian pelik itu merenggut separuh jiwamu....
Tak kuasa kutahan
lelehan air mata saat itu...
Kulihat dirimu bersimbah peluh nan lesu.... sayu.....
Seolah tiada lagi harapan hidupmu....
Tegarlah Untukku wahai Imamku...
Aku berusaha menjadi pilar penopang hati dan semangatmu
meskipun ku tahu
tiada daya aku merengkuh itu.
Tegarlah untukku wahai Belahan Jiwaku.....
Bersama kan kita jelang dunia nan baru, mengaliri setiap detik jantung bidadari penerusmu..
Lalui dunia hingga
batas sang waktu..
Dalam lautan doa dan air mata ini,
aku berdoa seraya berucap harap padamu cintaku.
Untuk mu seorang,
sepenuh jiwa kudarmakan baktiku..
Menunduklah kepada Dia
yang menggenggam langit nan biru..
Mengeluhlah tentang setiap jengkal masalahmu..
Kala diri ini tak lagi kuat menopangmu,
aku akan tetap mencoba tersenyum
meskipun dalam sendu,
dan bertasbih dalam rinduku.
Lalu kubisikkan kata indah
di telingamu ..... ,
Tegarlah Untukku......
Langganan:
Komentar (Atom)